Strategi Mengatasi Karyawan Yang Menolak Perubahan

Tidak ada yang abadi selain perubahan itu sendiri. Perusahaan berubahan detik demi detik, menit demi menit. Hal ini di sebut dengan dinamika perusahaan. Perusahaan harus senantiasa maju dan berkembang. Karyawan yang menolak akan perubahan menjadi kontraproduktif dan merugikan. Perubahan apa saja yang ditolak oleh karyawan?

  1. Perubahan Manajemen. Owner memasukkan kandidat baru (bukan karyawan lama) untuk menduduki jabatan manajerial atau eksekutif. Karyawan lama menjadi defensif dan sulit diajak kerjasama. Manajemen baru pun menaglami kesulitan untuk mensosialisasikan program kerjanya dan mencapai target yang ditetapkannya.
  2. Perubahan Cara Kerja. perusahaan biasa bekerja tanpa SOP kemudian diharuskan bekerja dengan SOP. Semua pekerjaan yang dilakukan tanpa SOP itu tidak ada ukurannya. Sebaliknya, semua pekerjaan yang dilakukan berdasarkan SIP itu ukurannya sangat ketat. Inilah yang membuat karyawan merasa “terkekang” atau “tidak bebas” dalam melakukan pekerjaan. Padahal, tujuan diberlakukannya SOP adalah untuk mempermudah karyawan melaksanakan pekerjaannya.
  3. Perubahan Lokasi Kerja. ini biasanya berkaitan dengan domisili (tempat tinggal) karyawan. Jika tempat kerjanya berpindah ke arah yang menjauhi tempat tinggalnya, biasanya karyawan akan menolak perpindahan tersebut.
  4. Perubahan Kepemilikan Perusahaan. Karyawan takut dengan kehadiran pemilik baru yang menyebabkan nasib mereka menjadi terancam, misalnya pemilik baru terpaksa harus memberhentikan karyawan yang tidak produktif dan menggantinya dengan karyawan yang lebih produktif untuk menyelamatkan investasinya.

Berikut hal-hal yang menjadi penyebab karyawan menolah akan adanya perubahan;

  1. Karyawan tidak memperoleh informasi yang tepat. Banyak karyawan mengambil kesimpulan yang salah dari desas desus atau asumsi tertentu. Padahal, asumsi itu mematikan. Contohnya, pemberlakuan SOP menyebabkan karyawan banyak terkena sanksi atau diberhentikan. Ini kan anggapan yang salah kaprah. Tentu saja akan terkena sanksi jika kariernya tidak baik. Sebaliknya, jika kinerjanya baik malah justru mendapatkan penghargaan.
  2. Karyawan tidak memahami tujuan dari perubahan tersebut. Perusahaan harus berubah agar luwes dalam menghadapi persaingan dan permintaan konsumen. Tujuan, sasaran, atau goal perusahaan yang tidak disosialisasikan dengan baik akan membuat karyawan tidak memahaminya dan bersikap defensif.
  3. Karyawan terjebak di zona kenyamanan. Biasanya terjadi pada perusahaan dengan budaya kerja yang tidak produktif. Ketika pemilik perusahaan mengubah budaya kerja perusahaan menjadi produktif, karyawan yang merasa terancam ini akan menolaknya.
  4. Karyawan takut perubahan itu akan merugikan dirinya. Biasanya terjadi pada karyawan yang tidak fokus pada pekerjaan tetapi fokus pada kepentingannya sendiri. Apa pun yang dilakukan perusahaan dianggap mengancam eksistensinya. Karyawan paranoid ini ada di setiap perusahaan dan bisa menjadi provokator yang merugikan bagi perusahaan.

Berikut strategi yang dapat kita lakukan untuk mengantisipasi dan mengatasi masalah ini;

  1. Berikan informasi yang tepat kepada seluruh karyawan secara berkala, khususnya yang berkaitan dengan target/goal (sasaran/tujuan) dan kebijakan/keputusan manajemen. Terapkan prinsip transparansi perusahaan. Dengan cara ini, karyawan akan terbiasa mengahadapi rencana perusahaan dan perubahan yang terjadi. Tanpa kesenjangan informasi, perubahan berjalan lancar.
  2. Lakukan perubahan secara bertahap, jangan seketika. Pengalaman saya mengubah perusahaan yang bekerja tanpa SOP menjadi perusahaan yang bekerja dengan SOP itu membutuhkan wakt 2-3 tahun lamanya. Sosialisasi dilakukan bertahap untuk membuat budaya kerja baru sehingga meminimalisir penolakan.
  3. Biasakan karyawan selalu dalam posisi diberi dan diawasi kinerjanya. Tiap tahun tingkatkan targetnya dan pengawasannya (evaluasinya). Dengan cara ini, karyawan terbiasa untuk mengubah setiap saat dan tidak terjebak di zona kenyamanan.

Bagi Anda yang saat ini sedang menjadi pekerjaan, ingatlah hal berikut; bekerja itu bertumbuh (dinamis). Jika Anda masih menganggap bekerja untuk mendapatkan rasa aman, urungkan niat Anda untuk bekerja. Jadilah pengangguran saja supaya aman, tidak terkena target, tidak terkena sanksi. Bekerja itu harus siap berubah dan tumbuh kembang setiap saat.

 

 

 

Artikel dapat dilihat di https://ardanakonsultan.com/artikel/strategi-mengata…enolak-perubahan/