Strategi Mengatasi Karyawan yang Lamban Saat Bekerja

Apa yang Anda rasakan ketika mengemudikan kendaraan di belakang truk yang berjalan pelan? Anda pasti ingin segera mendahuluinya. Jika truk itu sulit didahului dan sopirnya tidak mau memberikan jalan kepada Anda, Anda mungkin akan merasa jengkel dan bisa mengumpat sopir truk tersebut.

Apa yang Anda rasakan ketika Anda sedang memimpin rombongan touring, namun ada aggota rombongan Anda yang jalannya sangat pelan sekali. Anda pasti akan senewen karena perjalanan menjadi lamban dan tidak segera sampai di tujuan. Memang betul perjalanan itu dalam rangka touring, tetapi jika santanya keterlaluan, Anda akan menilai banyak waktu terbuang percuma.

Itulah gambaran yang paling nyata dari kehadiran karyawan yang lamban. Risiko karyawan yang lamban adalah menghambat kemajuan perusahaan sehingga menyebabkan tim kerja menjadi tidak kompak dan sikap lambannya tersebut dapat menular, mengkontaminasi kepada karyawan lainnya. Karyawan lamban itu bisa dilihat dari beberapa hal berikut ini;

  1. Lamban menyelesaikan pekerjaan. Biasanya terlihat secara kasat mata dari tumpukan pekerjaan di ruang kerjanya atau di meja kerjanya.
  2. Suka mengeluh tentang pekerjaan yang menumpuk. Karyawan ini fokus pada keluhannya daripada fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya. Karyawan seperti ini bisa dipastikan sering terlambat masuk kantor atau buru-buru pulang ketika jam kerja telah usai. Dia tidak berusaha menyelesaikan pekerjaan di luar jam kerjanya untuk memenuhi tanggung jawabnya.
  3. Pengambilan keputusan yang sangat lama sehingga seringkali kehilangan momen. Ini biasanya terjadi pada atasan atau pimpinan yang takut akan risiko jabatan. Ketakutan harus mempertanggungjawabkan kinerjanya itu justru membuatnya lamban bekerja.
  4. Banyak target tidak tercapai. Ketidakmampuan mencapai target itu bukan karena target yang terlalu tinggi. tetapi dipastkan semuanya akibat karyawan yang bekerja terlalu lamban sehingga kehabisan waktu untuk mencapai target yang sudah disepakati bersama.
  5. Perusahaan tidak mengalami pertumbuhan. Bisa stagnan atau malah menurun, berarti seluruh tim kerja terkena virus “laryawan lamban” ini.

Berikut yang menjadi penyebab karyawan menjadi lamban;

  1. Banyak karyawan yang mengidap obseitas mudah mengantuk, malas, kurang cekatan, mudah lelah, bahkan banyak pula yang berakhir di rumah sakit.
  2. Lemot (cara berpikir yang lambat) yang secara otomatis membuat cara kerjanya menjadi lambat.
  3. Prinsip “alon-alon waton kelakon” (pelan-pelan yang penting kesampaian). Inilah pengaruh budaya masyarakat setempat/lingkungan yang kontraproduktif. Padahalm karyawan kita menghabiskan sebagaian besar hidupnya di lingkungan masyarakatnya.
  4. Tidak ada pemacu. Mobil atau motor yang berjalan lambat bisa berjalan lebih cepat jika diklakson berkali-kali oleh kendaraan dibelakangnya. Jika pimpinan perusahaan tidak pernah memacu karyawan untuk bekerja cepat, bisa jadi karyawannya akan merasa nyaan bekerja lamban.
  5. Teladan yang buruk dari atasan. Atasan yang bekerja seenaknya, tidak peduli dengan target yang tidak tercapai dan bahasa tubuhnya tidak mencerminkan kecepatan berpikir dan bertindak, menyebabkan karyawan meniru dengan mudahnya.

Berikut cara yang dapar kita lakukan untuk mengantisipasi dan mengatasi masalah ini;

  1. Jika Anda menjadi pemilik perusahaan, pimpinan, atau atasan, biasakan berpikir dan bertindak cepat tetapi tepat. Karyawan akan respek dan mengikuti teladan Anda.
  2. Untuk mengantisipasi pengaruh budaya masyarakat “alon-alon waton kelakon”, buatlah pelatihan berkala untuk meningkatkan kecepatan dan ketepatan kerja karaywan. Terapkan reward and punishment sebagai faktor pemacu.
  3. Terakan SOP yang menggunakan ukuran waktu tertentu (detik, menit, jam, dan hari) untuk menilai ketepatan waktu kinerja karyawan. Karyawan harus memiliki standar waktu untuk menyelesaikan satu pekerjaan.
  4. Kampanyekan pentingnya memiliki tubuh proporsional dan sehat. Undang-undang praktisi medis untuk memberikan pencerahan kepada karyawan secara berkala. Terapkan prinsip bahwa perusahaan bukanlah sarang penyakit (yang membuat karyawan sakit), tetapi perusahaan adalah sarang rezeki yang membuat karyawan menjadi sejahtera.

Bagi Anda yang saat ini sedang berusaha mendapatkan peekrjaan, ingatlah hal ini; bekerja itu berkompetisi (dengan rekan sendiri, waktu, dan momentum).  Menangkan ketiga jenis kompetisi ini, maka karier Anda akan melesat secepat kilat tanpa ada yang mampu mencegahnya. Resepnya adalah bekerja secara cepat, tepat, dan akurat.