Proses Pembentukan Belief

            Belief ibarat sebuah daun meja, daun meja tidak bisa berdiri kokoh dan dosebut sebagai meja bila tidak ada kaki-kaki meja. Semakin banyak kaki meja, akan semakin kokoh dan mantap meja itu berdiri, dan sudah tentu akan sangat sulit merobohkan meja tersebut. Demikian sebaliknya.

Belief sebenarnya hanyalah sebuah konsep yang kita “yakini” benar. Untuk bisa meyakini sesuatu itu benar, dibutuhkan data-data pendukung yang kita pandang “valid” sehingga kita setuju dan menerimanya menjadi kebenaran, menurut kita. Dari mana saja asal data-data pendukung ini? Sumbernya bisa macam-macam. Saat kita masih kecilm data-data ini berasal terutama dari orangtua atau orang yang paling dekat dengan kita atau pengasuh kita. Setelah kita agak lebih besar, data-data ini bisa dari lingkungan, misalnya lingkup keluarga yang lebih besar atau guru disekolah. Setelah kita lebih besar lagi, data-data ini sudah tidak terbatas lagi asalnya. Bisa dari pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, televisi, internet, majalan, surat kabar, seminar, buku, pembicara publik, pakar, pendeta, kiyai, romo, ustad, bhante (biksu atau biksuni), suster, kitab suci, dan masih banyak lagi.

Shad Helmstetter mengatakan bahwa manusia pada umunya sejak usia 0 sampai 8 tahun, yang tinggal dalam lingkungan keluarga yang cukup positif, mendengar kata-kata negatif, seperti “tidak”, “tidak boleh”, “tidak bisa”, “jangan”, “kamu ngga bisa”, “ngga usah mencoba”, “kamu pasti gagal”, dan yang sejenisnya, sebanyak lebih dari 148.000 kali. Bila anak ini cukup beruntung karena orangtuanya positif sekali, maka ia akan mendengar kata-kata negatif hanya sekitas 100.000 kali.

Dapat kita bayangkan bagaimana dahsyatnya efek pemrograman yang dilakukan lingkungan, khususnya lingkungan di rumah. Pemrograman ini yang biasa disebut dengan enviromental hypnosis dan efeknya sangat kuat karena dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.

Berikut proses pembentikan belief;

  1. Repetisi

Suatu informasi yang diulang-ulang, cepat atau lambat, bila kita tidak hati-hati dan sadar, maka akan kita terima sebagai suatu kebenaran. Cara ini paling banyak digunakan untuk menanam bibit pikiran dan belief suatu produk. Tujuan dari repetisi atau pengulangan adalah menembus filter mental yang ada di pikiran sadar, sehingga unit informasi bisa masuk ke pikiran bawah sadar.

Cara ini diajarkan di berbagai  buku pengembangan diri dan seminar motivasi dalam bentuk afirmasi yang dibaca berulang-ulang dengan harapan afirmasi tersebut dapat masuk ke pikiran bawah sadar.

  1. Indetifikasi kelompok atau keluarga

Hal-hal yang dipercayai kelompk atau keluarga kita akan masuk ke dalam diri kita dan kita adopsi sebagai belief kita. Ini juga teknik yang kerap kali digunakan dalam iklan.

  1. Ide yang disampaikan figur yang dipandang memiliki otoritas

Hati-hati dengan figur otoritas, seperti bintang film, dokter, pembicara publik, penulis buku, atau siapa saja yang dipandang pakar. Apa yang disampaikan mereka cenderung mudah menembuh ke pikiran bawah sadar dan diterima sebagai kebenaran atau belief.

  1. Emosi yang intens

Saat suatu pengalaman dialami dengan emosi yang ontens, akan sangat mudah menjadi belief yang kuat. Salah satu contoh belief yang berasal dari emosi yang intens adalah saat seorang anak yang sedih dan ketakutan karena sering melihat ayah dan ibunya bertengkar karena uang, percaya uang adalah sumber keributan keluarganya. Anak ini tumbuh besar dengan belief yang menghambat dirinya dibidang finansial.

Emosi membuka pintu gerbang pikiran bawah sadar. Semakin intens emosi yang dialami seseorang, maka semakin terbuka pintu gerbang pikiran bawah sadar, dengan demikian, kejadian yang dialami seseorang yang masuk ke pikirannya dalam bentuk unit-unit informasi yang unik, akan terekam dengan sangat kuat dimemori, dipikiran bawah sadar, diikuti dengan emosi yang kuat.

  1. Kondisi alfa (hipnosis)

Ini adalah kondisi alamiah anak-anak. Saat kecil, karena lebih banyak beroperasi dalam kondisi alfa, anak mudah sekali tersugesti. Apa yang masuk ke pikiran bawah sadar mereka melalui sugesti, akan diterima sepenuhnya dan menjadi suatu kebenaran.

          Belief terdiri atas kumpulan memori yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu positif dan negatif. Pengelompokkan ini berfungsi membantu kita membuat keputusan. Dengan demikian, kita akan bisa dengan cepat memahami kejadian sebagai sesuatu yang berpotensi positif atau negatif, aman atau mengancam, baik atau buruk, dan yang bisa atau tidak bisa kita atasi. Dengan melakukan hal ini sebenarnya kita memprediksi atau meramalkan suatu akibat. Belief kita berlaku seperti bola kristal yang membantu kita membaca “masa depan”.

Jadi, pembentukan belief adalah proses yang tidak bisa dihindari dan berkesinambungan. Belief membantu kita membandingkan situasi yang kita alami saat ini dengan pengalaman masa lalu. Belief membantu kita memprediksi akibat/hasil dan membantu kita membuat keputusan berdasar sejumlah unit informasi/memori yang semuanya dikelompokkan berdasar suatu tema besar.

 

 

 

Artikel dapat dilihat di