Menyiapkan Coach Internal di Organisasi

              Mana yang lebih baik, memanfaatkan jasa coach eksternal atau memiliki coach internal di organisasi? Dua-duanya merupakan pilihan yang baik. Coach eksternal dapat mengambil peran sebagai orang luar yang netral dalam melihat situasi di perusahaan. Coach eksternal menjaga dirinya dari konflik kepentingan dan ketika dibutuhkan ia dapat berbagi best practice dari pengalamannya berinteraksi dengan beragam klien yang pernah ditangani. Dalam banyak hal, seorang coach eksternal mampu melihat celah-celah yang luput dari pengamatan para leader di perusahaan tersebut.

            Terdapat banyak situasi di mana peran coach eksternal sangat dibutuhkan. Beberapa di antaranya ketika coaching diberikan kepada top eksekutif di organisasi, coaching yang dilakukan saat kepercayaan antarindividu terendah, dan coaching yang dijadikan sebagai upaya terakhir untuk meningkatkan kinerja yang masih jauh dari harapan.

            Dari sudut pandang praktis, coach eksternal biasanya merancang program coaching yang customized sesuai dengan kebutuhan coachee. Coach eksternal mempertimbangkan berbagai faktor seperti personality, usia, gender, dan latar belakang kultural si coachee untuk membuat perencanaan coaching yang betul-betul cocok bagi dirinya dan memenuhi harapan pihak manajemen yang membiayai inisiatif coaching tersebut. Coach eksternal pun menjadi pilihan ketika ada kebutuhan jangka pendek yang tidak dapat dipenuhi oleh sumber daya yang tersedia di organisasi. Di sisi lain, memiliki coach internal juga sangat dianjurkan. Organisasi memanfaatkan sumber daya internal yang dapat diberdayakan sebagai penggerak perubahan. Terdapat beberapa pertimbangan yang membuat kebutuhan terhadap coach internal menjadi penting, diantaranya;

  1. Pendekatan yang konsisten. Bila perusahaan membutuhkan pendekatan coaching yang terintegrasi secara konsisten dengan misi, visi, dan nilai organisasi, maka peran coach internal akan sangat efektif untuk menanamkannya lebih kuat melalui sesi-sesi coaching.
  2. Cost effective. Kondisi ekonomi yang menuntut perusahaan untuk memperketat investasi, terutama di area pengembangan Sumber Daya Manusia membuat pilihan coach internal menjadi masuk akal. Umumnya opsi ini menghemat biaya investasi hampir setengah dari nilai yang harus dilakukan untuk memanfaatkan jasa coach eksternal.
  3. Lebih cepat dan real-time. Coach internal dapat bergerak cepat dalam mengidentifikasi kebutuhan coaching antar layer di organisasi. Mereka memiliki akses untuk menghubungi para pengambil keputusan di level eksekutif. Selain itu coach internal lebih mengerti situasi politik dan budaya organisasi yang bagi coach eksternal membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memahaminya. Coach internal pun lebih mudah untuk dihubungi apabila terjadi sesuatu yang bersifat mendadak. Oleh karena itu, coach internal mampu menyediakan data real-time yang berkaitan dengan kompleksitas organisasi dan para pelakunya.

             Di luar keuntungan-keuntungan yang bisa diperoleh dari peran coach internal di organisasi, ada beberapa hal yang harus diperjelas di tahap awal persiapan mereka, yaitu;

  1. Kompetensi, idealnya coach internal perlu memiliki sertifikasi coaching yang diperoleh dari serangkaian training dan praktik yang telah teruji. Disamping itu coach internal perlu memahami proses bisnis diberbagai macam area di organisasi. Hal ini dibutuhkan karena coach internal akan bekerja dengan orang yang berbeda-beda bukan hanya dari segi spesialisasi, tetapi juga mungkin berlainan hierarki.
  2. Role and Responsibilities, organisasi perlu memutuskan secara jelas peran dan tanggung jawab coach internal di struktur perusahaan. Selain itu perlu secara tegas memisahkan peran antara coach internal dan counselor. Ini penting untuk menjaga kredibilitas coaching di organisasi yang tidak dicampurkan dengan sisi counseling.
  3. Confidentiality and Ethics, dalam hal apa pun aspek kerahasiaan dan etika patut dijaga dalam proses coaching. Seorang coach internal yang bekerja dengan coachee kerap dihadapkan pada godaan untuk menceritakan hasil sesi pada orang lain yang mungkin saat itu memiliki isu dengan coachee. Coach internal perlu menjaga netralitas ketika dihadapkan pada masalah kinerja yang dialami oleh coachee yang dikenal dekat. Organisasi juga perlu membuat batasan untuk mengatur informasi apa saja yang boleh disampaikan pada pihak lain dan hal-hal sensitif yang patut dijaga kerahasiaannya.

             Pada intinya, diperlukan persiapan yang matang sebelum memutuskan coaching dilakukan secara internal oleh orang-orang yang ditunjuk secara khusus sebagai coach di organisasi. Elemen-elemen yang menjaga netralitas dan objektivitas upaya coaching perlu disepakati. Selain hal-hal teknis seperti kompetensi dan posisi struktural coach di organisasi.

             Saat ini coach internal umumnya dirangkap oleh manajer yang sudah dibekali oleh kompetensi coaching. Organisasi mengadopsi prinsip Leader as Coach yang mengharuskan setiap orang di posisi manajer ke atas melakukan coaching kepada karyawannya. Aplikasi coach internal lainnya sering dijumpai dalam organisasi yang melakukan program coaching bagi Management Trainee. coach internal adalah individu-individu berprestasi lulusan perguruan tinggi yang direkrut melalui proses seleksi ketat dan menjalani on-the-job training yang rentang waktunya satu hingga dua tahun, mereka mendapatkan coaching dari beberapa manajer di area bisnis yang berbeda.

 

 

 

 

Artikel dapat dilihat di https://ardanakonsultan.com/artikel/menyiapkan-coach…al-di-organisasi/