Mengenal Resiliensi dalam Ilmu Psikologi

             Resiliensi diartikan sebagai kemampuan umum yang melibatkan kemampuan penyesuaian diri yang tinggi dan luwes saat dihadapkan pada tekanan baik dari internal maupun eksternal. Pada awalnya, konsep tersebut diterapkan pada anak-anak yang dikenal sebagai “invulnerability” atau “stress-resistance”. Terminologi resiliensi dalam perjalannya mengalami perluasan dalam hal pemaknaan. Diawali dengan penelitian Garmezy (1991) mengenai anak-anak yang mampu bertahap dalam situasi yang penuh dengan tekanan, hal ini disebut sebagai descriptive labels yaitu menggambarkan anak-anak yang mampu berfungsi dengan baik walaupun mereka hidup dalam lingkungan yang buruk dan penuh dengan tekanan. Beberapa penelitian tentang resiliensi menggunakan istilah yang berbeda tapi pada dasarnya menggambarkan mekanisme yang sama untuk adaptasi terhadap stres, yaitu;

  • Compensatory

           Melihat resiliensi sebagai faktor yang menetralkan risiko, faktor risiko dan faktor pengganti yang secara independen berkonribusi pada outcome.

  • Challenge

          Menggunakan faktor risiko sebagai tantangan, contohnya individu yang resilien mampu memecahkan masalah, kecenderungan untuk memahami pengalaman sebagai suatu yang positif bahkan ketika mereka menderita, kemampuan untuk positif pada orang lain, dan keyakinan untuk mempertahankan pandangan hidup yang positif.

  • Protective factor

           Menggunakan faktor risiko untuk beradaptasi, contohnya individu yang resilien memiliki rasa optimis, empati, insight, intellectual, competence, self-esteem, serta memiliki tujuan, tekad, dan ketekunan.

            Resiliensi merupakan kemampuan individu dalam mengatasi, melalui, dan kembali pada kondisi semula setelah mengalami kesulitan (Reivich & Masten, 2005). Resiliensi juga dapat diartikan sebagai sebuah proses dari hasil adaptasi dengan pengalaman hidup yang sulit atau menantang, terutama melalui mental, emosional, dan perilaku yang felsibilitas, baik penyesuaian eksternal dan internal.

            Meningkatkan resiliensi adalah hal yang penting karena dapat memberikan pengalaman bagi individu dalam menghadapi permasalahan dan kesulitan di dalam hidupnya. Terdapat tiga hal yang dapat diberikan lingkungan untuk meningkatkan resiliensi seseorang, yaitu;

  1. Caring relationship

          Adalah dukungan cinta yang didasari oleh kepercayaan dan cinta tanpa syarat. Caring relationship dikarakteristikan sebagai dasar penghargaan yang positif. Contohnya seperti memegang pundak, tersenyum, dan memberi salam.

  1. High expectation massages

           Merupakan harapan yang jelas, positif, dan terpusat kepada seseorang. Harapan yang jelas merupakan petunjuk dan berfungsi mengatur dimana orang dewasa memberikan harapan tersebut untuk perkembangan seseorang. Harapan yang positif, dan terpusat mengomunikasikan kepercayaan yang mendalam dari orang dewasa dalam membangun resiliensi dan membangun kepercayaan dan memberikan tantangan untuk membuat seseorang menjadi apa yang mereka inginkan.

  1. Opportunities for participation and contribution

          Kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, memiliki tanggung jawab, dan kesempatan untuk menjadi pemimpin. Di samping itu opportunities juga memberikan kesempatan untuk melatih kemampuan problem solving dan pengambilan keputusan.

            Terdapat faktor-faktor pembentuk resiliensi, yaitu;

  1. Faktor risiko : mencakup hal-hal yang dapat menyebabkan dampak buruk atau menyebabkan individu berisiko untuk mengalami gangguan perkembangan atau gangguan psikologis.
  2. Faktor pelindung : merupakan faktor yang bersifat menunda, meminimalkan, dan menetralkan hasil akhir yang negatif. Terdapat tiga faktor pelindung yang berhubungan dengan resiliensi pada individu, yaitu:
  3. Faktor individual : merupakan faktor-faktor yang bersumber dari dalam individu itu sendiri, yaitu sociable, self-confident, self-afficacy, harga diri yang tinggi, dan memiliki bakat.
  4. Faktor keluarga : keluarga yang berhubungan dengan resilien, yaitu hubungan yang dekat dengan orangtua yang memiliki kepedulian dan perhatian, pola asuh yang hangat, teratur dan ondusif bagi perkembangan individu, sosial ekonomi yang berkecukupan, memiliki hubungan harmonis dengan anggota keluarga lain.
  5. Faktor masyarakat sekitar : memberikan pengaruh terhadap resiliensi pada individu, yaitu mendapat perhatian dari lingkungan aktif dalam organisasi kemasyarakatan di lingkungan tempat tinggal.

   Terdapat tujuh aspek utama yang mendukung individu untuk resiliensi, yaitu;

  1. Insight, yaitu proses perkembangan individu dalam merasa, mengetahui, dan mengerti masa lalunya untuk mempelajari perilaku-perilaku yang lebih tepat.
  2. Independence, yaitu kemampuan untuk mengambil jarak secara emosional maupun fisik dari sumber masalah (lingkungan dan situasi yang bermasalah).
  3. Relationship, yaitu individu yang resilien mampu mengembangkan hubungan yang jujur, saling mendukung, dan berkualitas bagi kehidupan, memiliki role model yang baik.
  4. Initiative, yaitu keinginan yang kuat untuk bertanggung jawab terhadap hidupnya.
  5. Creativity, yaitu kemampuan memikirkan berbagai pilihan, konsekuensi, dan alternatif dalam menghadapi tantangan hidup.
  6. Humor, yaotu kemampuan individu untuk mengurangi beban hidup dan menemukan kebahagiaan dalam situasi apapun.
  7. Morality, yaitu kemampuan individu untuk berperilaku atas dasar hati nuraninya. Individu dapat memberikan kontribusinya dan membantu orang yang membutuhkan.