Manfaat Resiliensi bagi Human Capital

            Membangun organisasi berkinerja tinggi yang berkelanjutan membutuhkan pendekatan sistemik dan terpadu yang akan menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi, peningkatan penjualan, kepuasan, pelanggan, dan retensi karyawan. Kinerja karyawan sangat berpengaruh pada kesuksesan perusahaan dalam mencapai tujuannya. Banyak sekali sifat karyawan yang mempengaruhi motivasi mereka dalam bekerja, terdapat karyawan yang melakukan pekerjannya dengan santai, ada yang mudah frustasi, mudah belajar, tidak bisa bekerja sama dalam tim, dan sebagainya.

            Sifat-sifat yang dimiliki oleh masing-masing individu tersebut secara langsung akan mempengaruhi efektivitas mereka dalam melakukan pekerjaannya, atau dengan kata lain mempengaruhi kinerja karyawan di perusahaan dimana mereka bekerja.

            Resiliensi karyawan seringkali dikaitkan dengan kinerja dan produktivitas karyawan, karena resiliensi merupakan bentuk kemampuan atau kekuatan yang dibutuhkan oleh setiap orang. Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk beradaptasi, tetap teguh dalam situasi sulit, terus mencoba mencari jalan keluar dari masalah, dan meningkatkan diri dari keterpurukan, dengan merespon secara sehat dan produktif untuk memperbaiki diri, sehingga mampu menghadapi dan mengatasi segala tekanan hidup.

            Resiliensi dibangun dari tujuh kemampuan yang berbeda-beda dan hampir tidak ada satupun individu yang memiliki seluruh kemampuan tersebut dengan baik. Tujuh kemampuan tersebut terdiri dari;

  1. Efikasi Diri

            Efikasi diri juga dikenla dengan kepercayaan diri, yaitu keyakinan pada kemampuan diri sendiri untuk menghadapu dan memecahkan masalah dengan efektif, serta mampu bangkit dari kegagalan yang dialami. Tingginya tingkat efikasi diri akan membuat seseorang memiliki komitmen dalam memecahkan masalah dan tidak akan menyerah ketika menemukan bahwa startegi yang sedang digunakannya tidak berhasil. Selain itu, mereka tidak merasa ragu dan mudah dalam menghadapi tantangan baru, karena miliki kepercayaan yang penuh dengan kemampuan dirinya.

  1. Regulasi Emosi

             Regulasi emosi adalah kemampuan untuk mengatur emosi diri (mengendalikan diri) dalam keadaan apa pun dan bagaimanapun. Regulasi emosi memungkinkan seseorang untuk tetap bersikap tenang walaupun sedang berada di bawah tekanan yang besar.

            Regulasi emosi dipengaruhi oleh dua hal, yaitu ketenangan dan fokus. Seseorang yang mampu mengelola kedunya dapat membantu meredakan emosi mereka, memfokuskan pikiran, dan mengurangi stres.

  1. Pengendalian Impuls (impulse control)

             Pengendalian impuls merupakan kemampuan mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaan, serta tekanan yang muncul dari dalam diri seseorang. Rendahnya tingkat pengendalian impuls akan membuat seseorang mengalami perubahan emosi dengan cepat dan cenderung mudah kehilangan kesabaran, mudah marah, impulsif, serta berlaku agresif pada situasi-situasi kecil yang tidak terlalu penting, sehingga menyebabkan ketidaknyamanan pada lingkungan sekitar.

  1. Analisis Penyebab Masalah (Analyzing Ability)

            Analisis penyebab masalah adalah kemampuan melakukan analisa, yaitu menguraikan dan mengenalisa komponen kejadian atau masalah, lalu merumuskan langkah perbaikan. Kemampuan ini dapat dibntuk dari pendidikan dan latihan secara terus menerus.

  1. Optimisme

           Optimisme adalah kemampuan untuk tetap berpikir dan berpandangan positif, serta bertindak konstruktuf dalam situasi apa pun. Seseorang yang optimis tidak akan pernah putuh asa, selalu memiliki harapan positif untuk masa depannya, dan percaya bahwa mereka dapat mengontrol arah hidupnya.

  1. Empati

           Empati merupakan kemampuan seseorang untuk merasakan dan membaca tanda-tanda psikologis dan emosional orang lain. seseorang yang memiliki empati memiliki kemampuan untuk mendengarkan dan memahami orang lain, sehingga mampu merespon dengan tepat terhadap emosi dari orang tersebut. Seseorang yang memiliki kemampuan berempati cenderung memiliki hubungan sosial yang positif.

  1. Peningkatan Aspek Positif

            Resiliensi meliputi kemampuan peningkatan aspek positif dalam kehidupan sehari-hari. Peningkata aspek positif merujuk pada kemampuan untuk senantiasa menambah nilai positif dalam diri seseorang. Hal ini akan membuat seseorang mampu membedakan risiko yang realistis dan tidak realistis, memiliki makna dan tujuan hidup serta mampu melihat gambaran besar dari kehidupan.

            Resiliensi sangat dibutuhkan oleh setiap orang karena akan menjadi sumber kekuatan yang membuat mereka mampu bertahan dalam situasi apapun. Berikut adalah  beberapa manfaat resiliensi bagi karyawan:

  • Karyawan mampu menghadapi kesulitan dan trauma dalam bidang kerja.
  • Karyawan dapat mencari pengalaman-pengalaman baru yang menantang karena mau belajar dan berjuang menghadapi kesulitan.
  • Mendorong diri sendiri untuk mencapai tujuan sehingga mampu mengembangkan diri.
  • Ketika ada masalah, karyawan tersebut mampu menyelesaikan konflik dan mengubah situasi yang mengganggu ke arah yang lebih baik. Ia akan belajar dan menjadi lebih sukses serta merasa puas dari poses sebelumnya.

 

 

 

 

Artikel dapat dilihat di https://ardanakonsultan.com/artikel/manfaat-resilien…gi-human-capital/