Cara Mengatasi Karyawan yang Stres / Depresi

Stres / depresi adalah suatu kondisi di mana karyawan mengalami tekanan mental, melebihi ambang batas daya tahan terhadap tekanan yang dimilikinya sehingga mengakibatkan disorientasi pekerjaan. Setiap orang memiliki daya tahap terhadap tekanan yang berbeda-beda. Jika daya tahan terhadap tekanannya sangat rendah, maka dia mudah pingsan (shock) katika melihat atau mengalami peristiwa yang mengagetkan. Bagi yang daya tahap terhadap tekannya sangat tinggi, dimarahi dan dicaci maki sekalipun, orang tersebut akan tetap tenang dan bisa tersenyum. Betapa pentingnya daya tahap terhadap tekanan ini sehingga mayoritas lowongan kerja mencantumkan persyaratan “bersedia bekerja di bawah tekanan”.

Karyawan yang stres / depresi biasanya tidak dapat berpikir jernih. Fokus kerjanya menjadi kacau, konsentrasinya terganggu, penyelesaian pekerjaan menjadi terhambat atau bisa tidak selesai sama sekali. Dia juga bisa melalkukan tindakan atau perbuatan tidak terduga, misalnya tiba-tiba menangis meraung-raung, bertengkar dengan sesama karyawan, atau memarahi konsumen. Jika stres / depresi berlangsung dalam jangka panjang, karyawan tersebut dapat mengidap sakit jiwa. Celakanya, sekit jiwa seperti ini sulit terdeteksi oleh bagian HRD. Hal yang terdeteksi adalah prestasi kerja yang buruk terus menerus. Produktivitas perusahaan menjadi terganggu. Hampir tidak ada pemberhentian kryawan dengan alasan karena karyawan bersangkutan sakit jiwa.

Apa yang menjadi penyebab karyawan bisa stres dan depresi?

  1. Beban pekerjaan terlalu berat. Biasanya terjadi pada karyawan level manajer. Pada saat dipromosikan memegang jabatan itu, karyawan berpesta pora atau mengadakan syukuran. Tapi, lupa meng-upgrade kemampuan dirinya. Padahal, semakin tinggi jabatan yang dipegang, semakin berat beban kerja yang harus dipertanggungjawabkan dan semakin besar peluang untuk stres maupun depresi. Jika terjadi pada karyawan lebel staf, biasanya karena kemampuan karyawan tersebut di bawah standar minimal kemampuan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan.
  2. Atasan terlalu otoriter. Rasa tertekan terus menerus menyebabkan stres dan depresi. Banyak karyawan yang mmeilih resign atau mengundurkan diri karena tidak cocok dengan tabiat atasannya. Celakanya, jika karyawan ini termasuk karyawan produktif, maka perusahaan pun akan dirugikan,
  3. Penghasilan lebih kecil daripada pengeluaran. Ini bukan soal gaji yang diberikan perusahaan, tapi soal gaya hidup karyawan. Misalnya, karyawan memiliki kartu kredit dan menggunakannya secara serampangan. Penghasilan Cuma Rp3.000.000,- bisa memiliki utang sampai Rp9.000.000,-. Kondisi ini membuatnya stres. Apalagi jika sudah dikejar-kejar dspt collector. Fokus kerjanya bisa hilang dan yang terjadi tiap hari adalah kebingungan tingkat akut.
  4. Alasan pribadi. Jika karyawan sudah menikah, biasanya masalah pertengkaran dengan suami/istrinya. Pada karyawan yang masih single, biasany terjadi karena putus hubungan dengan pacarnya atau malah terlalu ditekan orangtuanya suoata segera menikah. Alasan-alasan pribadi ini biasanya terbawa sampai ke kantor yang menyebabkan karyawan tersebut tidak bisa berkonsentrasi terhadap pekerjaan dan prestasi kerjanya memburuk.
  5. Kinerja yang tidak dihargai, karrena tiadanya sistem reward and punishment. Karyawan yang berprestasi dan prestasinya tidak dihargai, cenderung stres dan kemudian merasa putus ada. Pada kasus putus asa akut, karyawan tersebut akan menundurkan diri. Perusahaan dirugikan karena kehilangan karyawan yang produktif.

Lalu, bagaimana cara mengantisipasi dan mengatasi masalah ini?

  1. Beban kerja yang terlalu berat bisa diatasi dengan pelatihan peningkatan kemampuan kerja karyawan dan mendistribusikan seluruh pekerjaan secara adil melalui SOP. Ini harus dilakukan secara berbarengan. Di satu sisi karyawannya sendiri dipersiapkan secara mental, di sisi yang lain perusahaan membuat sistem yang memungkinkan seluruh karyawan dapat bekerja sesuai porisnya masing-masing sehingga tidak ada pekerjaan yang hanya menumpuk pada satu orang. Atasan yang otoriter dapat diatasi dengan adanya SOP, karena begitu SOP diberlakukan, karyawan otomatis bekerja berdasarkan SOP. Atasan tidak dapat menyalahkan karyawan jika sudah bekerja berdasarkan SOP dan mencapai targetnya.
  2. Sistem reward and punishment harus disusun dan diterapkan. Sistem ini memungkinkan karyawan memperoleh “keadilan” sehingga dia dapat bekerja nyaman tanpa erasa tertekan secara berlebihan.
  3. Bagian HRD harus memiliki program khusus tentang pengelolaan gaji. Gaji memang hak karyawan, tapi sangat disayangkan jika karyawan tidak mampu mengelolanya. Sebaiknya bagian HRD mengundang seorang financial planner untuk melatih karyawan mengelola gajinya. Kegiatan ini dilakukan secara berkala, misalnya enam bulan sekali.
  4. Karyawan dilatih bekerja profesional, fokus pada apa yang dikerjakan untuk mencapai target yang ditetapkan. Lakukan secara berkala, antara 3 – 6 bulan sekali. Pelatihan ini tidak menjamin karyawan bebas stres / depresi, tetapi dapat meminimalisir kasus tersebut.
  5. Bagian HRD membuka konseling khusus bagi karyawan bermasalah sehingga masalah tersebut dapat teratasi segera dan produktivitas perusahaan dapat dipertahankan.

 

 

 

Artikel dapat dilihat di https://ardanakonsultan.com/uncategorized/cara-mengatasi-k…ng-stres-depresi/