Cara Mengatasi Karyawan Tidak Mampu Mencapai Target dan Banyak Alasan

Karyawan yang tidak mampu mencapai target dan selalu banyak alasan mudah dikenali. Selain track record-nya buruk, sikapnya juga cenderung temperamental. Khususnya, ketika menghadapi evaluasi kinera atau mengikuti briefing dari pimpinan tentang target terbaru. Hal ini berkebalikan dengan karyawan yang selalu mencapai target dan tidak banyak alasan. Mereka ini selalu kalem saja saat menghadapi evaluasi kerja dan briefing dari pimpinannya.

Mengapa karyawan seperti ini cenderung merugikan perusahaan? Berikut alasannya;

  1. Perusahaan rugi membayar karyawan yang tidak produktif seperti ini. Prinsipnya sederhana saja, perusahaan didirikan untuk mendapatkan keuntungan. Itulah sebabnya perusahaan membayar karyawan untuk menciptakan keuntungan. Salah satu cara menciptakan keuntungan adalah mencapai target yang sudah ditetapkan oleh perusahaan. Ketidakmampuan karyawan mencapai target akan membuat perusahaan menjadi dirugikan.
  2. Ketidakmampuan satu karyawan dalam mencapai target juga dapat menyedoy produktivitas anggota tim kerja lainnya. Sebab, anggota tim lainnya harus bekerja lebih keras lagi untuk mencapai target tim, guna menutupu kekurangan target yang dicetak oleh karyawan yang tidak mampu mencapai terget ini. Akibatnya, hubungan personal antara anggota tim bisa memburuk. Tim menjadi tidak kompak dan terancam pecah.
  3. Sikap temperamental yang ditunjukkan karyawan tidak produktif akan menciptakan konflik internal. karyawan ini menyebalkan. Rekan-rekan kerjanya menjadi muak dan menjauhinya. Namun, bukannya melakukan instrospeksi diri dan memperbaiki sikap, justru karyawan ini sikap temperamentalnya makin menjadi-jadi. Konflik internal ini kontraproduktif dengan upaya kita menjadikan karyawan sebagai aset perusahaan.

Apa penyebab karyawan tidak mampu mencapai target dan banyak alasan?

  1. Kesalahan rekrutmen. Proses rekrutmen yang ceroboh akan meloloskan karyawan yang tidak memiliki kemampuan memadai untuk bekerja. Ini murni ketidakpekaan dan ketidakcermatan bagian HRD dalam menyeleksi karyawan baru.
  2. Perusahaan lalai melakukan sosialisasi tentang target dan tata cara pencapaiannya. Mayoritas target itu ditetapkan secara sepihak oleh pimpinan atau owner dan hanya dikomunikasikan satu arah saja kepada karyawan. Karyawan dipaksa mau tidak mau harus mencapai target tersebut. Padahal, daya tangkap orang berbeda-beda. Karyawan yang daya tangkapnya berpotensi besar untuk gagal mencapai target.
  3. Karyawan tidak memiliki etos kerja yang baik. Semangat kerjanya rendah. Bahkan juga tidak merasa bangga bekerja di perusahaan yang telah memberinya kehidupan itu. Karyawan cenderung defensif terhadap target dan evaluasi kinerja. Banyak alasan menunjukkan bahwa karyawan menerapkan strategi defensi untuk melindungi egonya.

Bagaimana cara kita membalikkan keadaan?

  1. Pada saat rekrutmen, pilihkan kandidat “hanya” yang benar-benar memiliki kemampuan kerja tingkat tinggi. Saat ini, tersedia jutaan pengangguran, maka kita bebas memilih yang terbaik.
  2. Target harus selalu ditetapkan berdasarkan pencapaian kinerja sebelumnya dan pertumbuhan perusahaan di masa depan. Target yang sudah ditetapkan harus disosialisasikan secara berkala kepada setiap karyawan. Sosialisasi ini bukan semata ceamah atau arah, namun harus iikuti dengan berbagai trik dan strategi untuk mencapainya. Upayakan menggunakan model interaktif, sehingga setiap karyawan memiliki tingkat pemahaman yang sama.
  3. Setelah itu, lakukan evaluasi kinerja dan pembinaan terus menerus sebulan sekali. Karyawan yang mencapai target diberi reward, sedangkah yang tidak mencapai target, dibina atau diberhentikan.
  4. Buatlah karyawan bangga bekerja bersama Anda. perbaiki sikap Anda, perbaiki perusahaan Anda. Dua-duanya harus dilakukan bersamaan. Jika sifat Anda baik tapi tempat kerja karywan makin buruk, maka semangat kerja mereka pun akan turun. Sebaliknya, perusahaan makin baik namun sikap Anda makin buruk, karyawan akan menjauhi Anda,

Jadi, mencapai target itu bukan kewajiban, tetapi kesadaran. Karyawan yang sadar mencapai target, adalah aset perusahaan.

 

 

 

 

Artikel dapat dilihat di https://ardanakonsultan.com/artikel/cara-mengatasi-k…an-banyak-alasan/